Nama :
Dearni Afrida P
NIM :
RRA1C110006
Mata Kuliah :
Kimia Bahan Alam
Dosen :
Dr.Syamsurizal, M.Si
- Cari di artikel tentang tehnik identifikasi dari suatu senyawa terpenoid? Mengapa dengan reagen tersebut tidak cocok untuk mengidentifikasi golongan lain seperti flavonoid, alkaloid atau fenolik lain? Nama artikel, almat web, dasar artikel
- Dengan cara yang sama cari tehnik isolasi tentang senyawa terpenoid, jelaskan dasar ilmiah penggunaan pelarut dan tehnik-tehnik isolasi dan purifikasi. Misalnya dengan pelarut etanol dilakukan kromatografi.
- Pelajari cara biosintesis suatu terpenoid. Identifikasilah sekurang-kurangnya lima jenis reaksi organic yang terkait dengan biosintesis tersebut dan jelaskan reaksinya?
- Salah satu bioaktivitas terpenoid berhubungan dengan hormone laki-laki dan perempuan, jelaskan gugus fungsi yang mungkin berperan sebagai hormone baik pada testosterone dan estrogen. Misalnya pada hormone testosterone itu yang paling aktif?
JAWAB
METODE KERJA
Ekstraksi
senyawa terpenoid dilakukan dengan dua cara yaitu :
a.
Sokletasi
Seberat 1000 g serbuk kering herba meniran disokletasi dengan 5 L
pelarut n –heksana. Ekstrak n-heksana dipekatkan lalu disabunkan
dalam 50 mL KOH 10%. Ekstrak n-heksana dikentalkan lalu diuji
fitokimia dan uji aktivitas antibakteri.
b. Maserasi
Seberat 1000 g serbuk kering herba meniran dimaserasi menggunakan
pelarut metanol. Ekstrak metanol dipekatkan lalu dihidrolisis dalam 100 mL HCl
4 M. Hasil hidrolisis diekstraksi dengan 5 x 50 mL n–heksana.
Ekstrak n-heksana dipekatkan lalu disabunkan dalam 10 mL KOH 10%.
Ekstrak n-heksana dikentalkan lalu diuji fitokimia dan uji
aktivitas antibakteri.
Ekstrak yang positif terpenoid dan paling aktif antibakteri dipisahkan
mengunakan kromatografi kolom dengan fase diam silika gel 60 dan fase gerak
kloroform : metanol (3 : 7). Fraksi-fraksi yang diperoleh dari kromatografi
kolom diuji fitokimia dan uji aktivitas antibakteri. Fraksi yang positif
terpenoid dan paling aktif antibakteri dilanjutkan ke tahap pemurnian
menggunakan kromatografi lapis tipis. Isolat yang relatif murni selanjutnya
diidentifikasi menggunakan kromatogafi gas – spektroskopi massa.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil ekstraksi dengan cara sokletasi dan maserasi menunjukkan bahwa
ekstrakn-heksana pada kedua cara tersebut positif mengandung senyawa
terpenoid. Hal ini dibuktikan dengan terbentuknya warna ungu setelah ekstrak nheksana
direaksikan dengan Pereaksi Lieberman Burchard. Hasil uji aktivitas antibakteri
terhadap ekstrak n-heksana hasil sokletasi memberikan daya hambat
yang lebih besar dibandingkan ekstrakn-heksana hasil maserasi. Uji
aktivitas bakteri dilakukan dengan pembiakan bakteri dengan menggunakan jarum
ose yang dilakukan secara aseptis. Lalu dimasukkan ke dalam tabung yang berisi
2mL Muller-Hinton broth kemudian diinkubasi bakteri homogen selama 24 jam pada
suhu 35°C. suspensi baketri homogeny yang telah diinkubasi siap dioleskan pada
permukaan media Muller-Hinton agar secara merata dengan menggunakan lidikapas
yang steril. Kemudian tempelkan disk yang berisi sampel, standartetrasiklin
serta pelarutnya yang digunakan sebagai kontrol. Lalu diinkubasi selama 24 jam
pada suhu 35°C. dilakukan pengukuran daya hambat zat terhadap baketri.
Terhadap ekstrak n-heksana hasil sokletasi dipisahkan mengunakan kromatografi kolom menghasilkan tiga buah fraksi yang dipaparkan pada Tabel 1.
Terhadap ekstrak n-heksana hasil sokletasi dipisahkan mengunakan kromatografi kolom menghasilkan tiga buah fraksi yang dipaparkan pada Tabel 1.
|
No
|
Fraksi
|
Jumlah Noda
|
Rf
|
Warna Ekstrak
|
|
1
|
A
|
1
|
0,725
|
Kuning
|
|
2
|
B
|
2
|
0,690 dan 0,600
|
Kuning muda
|
|
3
|
C
|
1
|
0,580
|
Kuning muda
|
Hasil uji fitokimia menunjukkan bahwa fraksi A dan fraksi C positif
terpenoid yaitu memberikan warna merah muda (positif diterpenoid) pada fraksi A
dan warna ungu muda (positif triterpenoid) pada fraksi C setelah direaksikan dengan pereksi Lieberman-Burchard. Uji
fitokimia dapat dilakukan dengan menggunakan pereaksi Lieberman-Burchard.
Perekasi Lebermann-Burchard merupakan campuran antara asam setatanhidrat dan
asam sulfat pekat. Hasil ini dipaparkan pada Tabel 2.
|
Nama Fraksi
|
Warna larutan sebelum direaksikan dengan pereaksi Liberman-Burchad
|
Warna larutan setelah direaksikan dengan pereaksi Liberman-Burchad
|
Keterangan
|
|
Fraksi A
|
Kuning
|
Merah muda
|
Positif terpenoid (diterpenoid)
|
|
Fraksi B
|
Kuning muda
|
Hijau kebiruan
|
Negative terpenoid (steroid)
|
|
Fraksi C
|
Kuning muda
|
Ungu muda
|
Positif terpenoid(triterpenoid)
|
Fraksi yang positif terpenoid selanjutnya dilakukan uji aktivitas
antibakteri. Dari hasil uji aktivitas antibakteri fraksi A memberikan daya
hambat yang lebih baik sehingga fraksi A dilanjutkan ke tahap pemurnian. Hasil
pemurnian menunjukkan noda tunggal. Hal ini dapat dikatakan fraksi A relative
murni secara KLT. Isolat yang relatif murni diidentifikasi menggunakan
kromatografi gas – spektroskopi massa. Kromatogram gas fraksi n-heksana
positif terpenoid dan aktif antibakteri yang menunjukkan terdapatnya dua buah
puncak dengan waktu retensi berturut-turut : 25,74 dan 21,93 menit. Berdasarkan
data di atas senyawa tersebut mengandung dua buah senyawa.
Setelah difragmentasi, struktur phytadiene mengikuti pola
fragmentasi senyawa pada puncak I, dengan demikian senyawa pada puncak I diduga
sebagai senyawaphytadiene berdasarkan data Spektroskopi Massa, pola
fragmentasi dan hubungan antara senyawa puncak I dengan phytol, phytadiene dan
dodekane.
Berdasarkan data hasil penelusuran internet, terdapat struktur senyawa
yang memiliki berat molekul m/z 336 dengan gugus dan pola fragmentasi yang
memenuhi gugus dan pola fragmentasi senyawa pada puncak II, senyawa tersebut
adalah 1,2-seco-cladiellan. Berdasarkan data di atas ditarik suatu kesimpulan
yaitu senyawa puncak II diduga sebagai senyawa 1,2–seco–cladiellan,
karena struktur senyawa ini memenuhi pola fragmentasi senyawa puncak II.
Uji fitokimia dapat dilakukan dengan menggunakan
pereaksi Lieberman-Burchard. Perekasi Lebermann-Burchard merupakan campuran
antara asam setat anhidrat dan asam sulfat pekat. Alasan digunakannya asam
asetat anhidrat adalah untuk membentuk turunan asetil dari steroid yang
akan membentuk turunan asetil didalam kloroform setelah. Alasan penggunaan
kloroform adalah karena golongan senyawa ini paling larut baik didalam pelarut
ini dan yang paling prinsipil adalah tidak mengandung molekul air. Jika dalam
larutan uji terdapat molekul air maka asam asetat anhidrat akan berubah
menjadi asam asetat sebelum reaksi berjalan dan turunan asetil tidak akan
terbentuk. Dan alasan menggunakan asam asetat pekat sehingga menghasilkan terpenoid.
Cara kerja
Penelilti ini meliputi
empat tahap pengerjaan yaitu ekstraksi, fraksinasi, pemurnian dan
karakterisasi.
a. Ektraksi
sampel daun direndam
(maserasi ) dengan menggunakan metanol + 3-4 hari. Setelah itu maserat yang
diperoleh dikumpulkan, disaring, dan dipekatkan dengan penguap bertekanan
rendah hingga diperoleh residu yang kering. Selanjutnya ekstrak yang diperoleh
dipartisi dengan menggunakan etil asetat : air = 1 :1 sebanyak 3 kali
menghasilkan 2 fase yaitu fase etil asetat dan fase air. Selanjutnya dilakukan
uji reaksi liberan buchard terhadap kedua fase. Dari uji kedua fase diketahui
fase etil asetat yang lebih memberikan hasil positif atau yang mengandung
senyawa terpenid. Kemudian dilakukan evaporasi terhadap fase vetil asetat
sehingga diperoleh ekstrak kental.
b. Fraksinasi.
Pada tahap ini
dilajutkan dengan metode kromatografi lapis tipis (KLT) dengan menggunakan
beberapa campuran pelarut yang dilakukan terhadap ekstrak etil asetat untuk
melihat komposisi dan sistem pelarut yang tepat yang akan digunakan dalam
fraksinasi pada kromatografi kolom. Sistem pelarut antara lain : n-heksan :
etil asetat = 2 : 1, metanol : air = 5 : 1, kloroform : metanol : air= 7 : 3 :
1. setelah diuji hasil KLT dan diperoleh sistem pelarut- ekstrak yang tepat ,
selajutnya dilakukan pemisahan komponen-komponen dalam ekstrak dengan
kromatografi kolom. Sampel ekstrak yang mungkin selanjutnya dilarutkan dengan
kloroform untuk dihomogenkan dan setelah cukup kering dimasukkan kedalam kolom
danm dielusi dengan campuran n-heksan : etil asetat menurut kenaikan gradien
poleritas pelarut, mulai dari perbandingan 10 :1 sampai dengan 1 :1.
selanjutnya dilakukan kromatohgrafi lapis tipis terhadap masing-masing komponen
sehingga dihasilkan beberapa macam fraksi. Fraksi-fraksi yang mempunyai nilai
Rf yang sama digabung menjadi satu fraksi.
c. Pemurnian
Fraksi yang telah
dikumpulkan tadi, selajunya diuapkan kemudian dilakuakan rekristalisasi.
Padatan komponen tersebut dilarutkan dengan pelarut methanol pada suhu 50°C,
kemudian disaring dengan corong buchner selagi panas. Jika larutan berwarna,
ditambahkan norit 1-2% dari berat padatan komponen tadi, kemudian disaring
kembali dan filtratnya didinginkan dalam air es sampai terbentuk kristal.
d. Karakterisasi
kristal yang diperoleh
uji kemurniannya dengan kromatografi lapis tipis dalam eluen n-heksan : etil
asetat (2:1) dilanjutkan dengan pengujian titik leleh dan diidentifikasi dengan
uji pereaksi Liberman – Buchard.
http://buyungchem.wordpress.com/isolasi-senyawa-terpenoid/
Digunakan pelarut metanol karena methanol bersifat polar, selain itu methanol juga bersifat
volafil (mudah menguap) sehingga pada akhir proses kristalisasi akan
membentuk asam benzoate murni karena methanol akan habis menguap. Syarat
utama tebentuknya Kristal dalam suatu larutan adalah larutan induk
harus dibuat dalam kondisi lewat jenuh. Kondisi lewat jenuh dalah
kondisi dimana pelarut mengandung zat terlarut melebihi kemampuan
pelarut tersebut untuk melarutkan zat terlarut pad suhu tetap
(Fessenden,2002)
3. Biosintesis Senyawa Terpenoid
Terpenoid
merupakan bentuk senyawa dengan struktur yang besar dalam produk alami yang
diturunkan dan unit isoprene (C5) yang bergandengan dalam model kepala ke ekor,
sedangkan unit isoprene diturunkan dari metabolism asam asetat oleh jalur asam
mevalonat (MVA).
Secara umum biosintesa dari terpenoid dengan terjadinya 3
reaksi dasar, yaitu:
1.Pembentukan isoprene aktif berasal dari asam asetat
melalui asammevalonat.
2.Penggabungan kepala dan ekor dua unit isoprene akan
membentuk mono-,seskui-, di-. sester-, dan poli-terpenoid.
3.Penggabungan ekor dan ekor dari unit C-15
atau C-20 menghasilkantriterpenoid dan steroid. Mekanisme dari tahap-tahap
reaksi biosintesis terpenoid adalah asam asetat.
Setelah diaktifkan oleh koenzim A melakukan kondensasi
jenis Claisen menghasilkan asam
asetoasetat. Senyawa yang
dihasilkan ini dengan asetil koenzim A melakukan kondensasi jenis aldol menghasilkan rantai karbon
bercabang sebagaimana ditemukan pada
asam mevalinat, reaksi-reaksi berikutnya adalah fosforialsi, eliminasi asam fosfat dan dekarboksilasi menghasilkan isopentenil (IPP) yang selanjutnya berisomerisasi menjadi dimetil alil piropospat
(DMAPP) oleh enzimisomeriasi. IPP sebagai unti isoprene aktif bergabung secara
kepala ke ekordengan DMAPP dan penggabungan ini merupakan langkah pertama
daripolimerisasi isoprene untuk menghasilkan terpenoid. Penggabungan ini terjadi karena serangan electron dari
ikatan rangkap IPP terhadap atom
karbon dari DMAPP yang kekurangan electron diikuti olehpenyingkiran ion
pirofosfat yang menghasilkan geranil. Pirofosfat (GPP) yaitu senyawa antara bagi semua senyawa monoterpenoid. Penggabungan selanjutnya antara satu unti IPP dan GPP
dengan menaisme yang sama
menghasilkan Farnesil pirofosfat (FPP) yang merupakan senyawaantara bagi semua
senyawa seskuiterpenoid. Senyawa diterpenoid diturunkan dari Geranil-Geranil Pirofosfat (GGPP) yang berasal dari
kondensasi antara satu unit PP dan GPP dengan
mekanisme yang sama. Mekanisme biosintesa senyawa terpenoid adalah sebagai berikut:
4. Salah satu bioaktivitas terpenoid berhubungan
dengan hormone laki-laki dan perempuan, jelaskan gugus fungsi yang mungkin
berperan sebagai hormone baik pada testosterone dan estrogen. Misalnya pada
hormone testosterone itu yang paling
aktif?
Jawab :
Yang berperan
sebagai hormone laki-laki atau perempuan adalah gugus fungsi pada senyawa
terpenoid berupa terpenoid yang tidak menguap, yaitu triterpenoid dan steroid.
Sedangkan terpenoid yang berperan sebagai hormone tidak spesifik adalah
seskuiterpenoid.
Estrogen adalah salah satu hormon seks yang berperan
sangat penting bagi wanita. Estrogen merupakan hormon steroid (punya kerangka
inti yang sama kayak kolesterol) dan dibentuk terutama dari
17-ketosteroidnandrostenedion (prekursornya hormon androgen). Estrogen ternyata
terdiri dari tiga jenis, yaitu 17β-estradiol (E2), estron (E1),
dan estriol (E3). 17β-estradiol merupakan hormon yang paling dominan
karena paling banyak terdapat dalam tubuh dan aktivitasnya paling tinggi.
struktur estrogen dengan 3-7-dihidroksi (OH) untuk berikatan dengan
reseptor. Terdiri dari empat cincin dan dua gugus hidroksil (-OH) yang penting
untuk ikatan dengan reseptor estrogen.
Steroid
Beberapa steroid
bersifat anabolik, antara lain testosteron,
metandienon, nandrolon dekanoat, 4-androstena-3 17-dion.
Steroid anabolik dapat mengakibatkan sejumlah efek samping yang berbahaya,
seperti menurunkan rasio lipoprotein densitas tinggi, yang berguna bagi jantung,
menurunkan rasio lipoprotein densitas rendah, stimulasi tumor prostat, kelainan koagulasi
dan gangguan hati,
kebotakan, menebalnya rambut, tumbuhnya jerawat
dan timbulnya payudara
pada pria.
Secara fisiologi,
steroid anabolik dapat membuat seseorang menjadi agresif.
Steroid terdiri atas beberapa Kelompok senyawa dan
penegelompokan ini didasarkan pada efek fisiologis yang diberikan oleh
masing-masing senyawa. Kelompok-kelompok itu adalah sterol, asam- asam empedu,
hormon seks, hormon adrenokortikoid, aglikon kardiak dan sapogenin. Ditinjau
dari segi struktur molekul, perbedaan antara berbagai kelompok steroid ini
ditentukan oleh jenis substituen R1, R2 dan R3 yang terikat pada kerangka dasar
karbon. sedangkan perbedaan antara senyawa yang satu dengan yang lain pada
suatu kelompok tertentu ditentukan oleh panjang rantai karbon R 1, gugus fungsi
yang terdapat pada substituen R 1, R 2, dan R 3, jumlah serta posisi gugus
fungsi oksigen dan ikatan rangkap dan konfigurasi dari pusat-pusat asimetris
pada kerangka dasar karbon tersebut.
Steroid lain
termasuk steroid hormon seperti kortisol, estrogen, dan testosteron.
Nyatanya, semua hormon steroid terbuat dari
perubahan struktur dasar kimia kolesterol. Saat tentang membuat sebuah molekul
dari pengubahan molekul yang lebih mudah, para ilmuwan menyebutnya sintesis.
Hiperkolesterolemia berarti bahwa kadar kolesterol terlalu tinggi dalam darah.
Kolesterol dapat dibuat secara sintetik. Kolesterol sintetik saat ini mulai
diterapkan dalam teknologi layar lebar (billboard) sebagai alternatif LCD. Kolesterol
adalah jenis lemak yang paling dikenal oleh masyarakat. Kolesterol merupakan
komponen utama pada struktur selaput sel dan merupakan komponen utama sel otak
dan saraf. Kolesterol merupakan bahan perantara untuk pembentukan sejumlah
komponen penting seperti vitamin D (untuk membentuk & mempertahankan tulang
yang sehat), hormon seks (contohnya Estrogen & Testosteron) dan asam empedu
(untuk fungsi pencernaan).Pada umumnya lemak tidak larut dalam air, yang
berarti juga tidak larut dalam plasma darah. Agar lemak dapat diangkut ke dalam
peredaran darah, maka lemak tersebut harus dibuat larut dengan cara
mengikatkannya pada protein yang larut dalam air. Ikatan antara lemak
(kolesterol, trigliserida, dan fosfolipid) dengan protein ini disebut
Lipoprotein (dari kata Lipo=lemak, dan protein). Lipoprotein bertugas
mengangkut lemak dari tempat pembentukannya menuju tempat penggunaannya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar